Budidaya Tanaman Anggrek (Phalaenopsis laicockii)


Anggrek asli Kalimantan ini mempunyai bentuk daun silindris sempit, dengan tipe pertumbuhan menggantung. Ujung daun berwarna hijau tua, agak meruncing dan memiliki ruas. Tangkai bunga menancap pada sisi samping batang. Warna kelopak maupun mahkotanya merupakan kombinasi putih dengan merah jambu lembut. Jumlah kuntum bunga setiap tangkainya sekitar 7-15 buah, diameter rata-rata 6 cm.

A.  Syarat Tumbuh
Melihat cara hidupnya di alam, anggrek jenis ini termasuk jenis epipit. Jenis ini menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya. Memerlukan cahaya matahari 20-50 %, sehingga pertumbuhanya selalu ternaungi.. Untuk mendapatkan hasil optimal, sebaiknya anggrek ditempel pada pohon dan disimpan di tempat yang agak teduh. Kisaran suhu yang dibutuhkan tanaman anggrek ini pada udara dingin 15º C, udara normal 21º C dan suhu udara panas 27º – 35º C

B.  Memilih Bibit Anggrek
Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan bibit yang baik pula. Untuk itu diperlukan seleksi benih, atau memilih bibit yang unggul. Berikut cara yang biasa dilakukan untuk mendapatkan bibit anggrek yang baik :
1.    Tanaman Dewasa
Tanaman anggrek bisa dengan mudah ditandai dengan melihat munculnya bunga. Keuntungannya adalah tanaman lebih cepat berbunga.
2.    Tanaman Muda
Ciri utama adalah belum menghasilkan bunga, biasanya dijual dalam pot-pot kecil
3.    Bibit Kompot (komuniti pot)
Disebut komuniti pot karena dalam satu pot ditanam beberapa bibit secara bersama.
4.    Bibit Dalam Botol
Bibitnya masih berupa kecambah yang dimasukkan kedalam botol

Dalam memilih bibit harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.    Tanaman secara keseluruhan tampak sehat.
b.    Warna bunga segar
c.    Pot dan tanaman sehat
d.   Kondisi media baik

C.  Media Tanam dan Cara Tanam
1.    Media Tanam
Untuk  jenis anggrek epipit, media yang digunakan berupa pakis, pecahan genteng, sabut kelapa dan arang kayu dengan persyaratan media yang baik untuk tanaman anggrek adalah :
Media harus remah agar memudahkan proses pertumbuhan akan dan melancarkan aliran air. Tidak mengandung toksin atau racun. Kandungan unsur haranya tinggi. Tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Kuat mengikat air.
2.    Cara Tanam
Yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk menanam anggrek dari bibit botol adalah :
Peralatan berupa pot, pinset dan media tanam, sebelum digunakan harus dicuci bersih lalu dibilas dengan fungisida.
Botol yang berisi bibit anggrek dibuka tutupnya, isi botol dengan larutan fungisida hingga seluruh bibit terendam. Satu-persatu bibit diambil. Bibit ditiriskan diatas nampan yang diberi alas kertas bersih. Pot yang diisi dengan media tanam. Bibit ditanam sedalam ± 2 cm.

D.  Pemeliharaan anggrek
Penyiraman sesering mungkin dan dijaga jangan sampai kekurangan air. Pemupukan dilakukan 2-4 kali sehari dengan dosis 2 gram/liter air dan waktu pemupukan pukul 07.00 - 09.00 atau 15.00 - 17.00.  Perbedaan kebutuhan pupuk setiap fase pertumbuhan :

Fase Pertumbuhan
N
P
K
Bibit
60
30
10
Tanaman muda
30
30
30
Tanaman sudah berbunga
10
60
10

Penggantian media penting dilakukan agar pertumbuhan dan pembungaan anggrek selalu optimal. Untuk mempercepat pembungaan anggrek dilakukan dengan perlakuan panjang hari, suhu rendah, pemberian zat pengatur tumbuh dan pengaturan intensitas cahaya. Pengaturan intensitas cahaya yang lebih mudah dilakukan, yaitu dengan menjemur tanaman langsung dibawah sinar matahari. Kegiatan ini dilakukan pada pukul 06.30 - 10.00 selama ± 1 bulan. Apabila penjemuran dilakukan melebihi 1 bulan tanaman akan terbakar.

E.   Hama dan Penyakit
Masalah hama dan penyakit merupakan salah satu penyebab utama kegagalan budidaya anggrek adapun hama dan penyakit yang biasa menerang anggrek adalah :
1.    Hama
a.    Kutu perisai
Biasanya menyerang daun, batang dan akar. Gejala serangan berupa timbulnya klorotik atau bercak kuning pada daun. Pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil. Cara pengendaliannya dengan menempatkan tanaman dilokasi yang tidak terlalu lembab. Jarak antar pot sesuai, daun tidak saling menutupi penyemprotan dengan insektisida. Berbhan aktif gamma-BHC atau Malation.
b.    Thrips
Hama ini merusak dengan menghisap cairan tanaman inangnya sehingga tanaman menjadi lemah dan kerdil disamping itu merupakan vektor bakteri, jamur dan virus.. Lokasi serangannya dibagian bunga atau kuncup bunga, sehingga bunga tidak bisa mekar dengan sempurna. Lama-kelamaan warna bunga menjadi coklat hingga penampilannya tidak menarik lagi.. Cara pengendaliannya adalah dengan : Menjaga sanitasi lingkungan. Penyemprotan pencegahan 1-2 minggu sekali dengan dosis rendah menggunakan pestisida sistemik seperti Malation, Diazinon atau Basudin.
c.    Aphid
Hama ini merusak tanaman dengan menghisap cairan tanaman sehingga tanaman menjadi lemah dan kerdil. Akibat yang ditimbulkan dari serangan aphid adalah kuncup bunga tidak mekar dan pertumbuhan tanaman terganggu. Cara pengedalian- nya adalah : Bersihkan atau lap daun yang terkena cendawan dengan memakai air diterjen. Bila ditemu- kan gejala serangan, semprotkan isektisida sistemik, seperti Diazinon, Dimethoate atau Malation. Untuk pencegahan dan perawatan, semprot isektisida tersebut seminggu sekali.

2.    Penyakit
a.    Bercak Coklat
Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri Pseudomonas cattleyae. Gejala serangan yang ditimbulkan berupa munculnya luka basah dan berair pada bagian tanaman. Luka tersebut lama-kelamaan menjadi kehitaman Cara pengendalinnya adalah : singkirkan bibit yang sudah terinfeksi atau olesi daun-daun yang baru terserang dengan larutan merkuriklorida (1:1.000). perlakuan ini perlu diulangi seminggu kemudian. Potong dan bakar bagian yang terinfeksi.
b.    Busuk Lunak
Disebab kan oleh bakteri Erwina carotovora. Gejala serangan ditandai dengan munculnya bintik kecil lunak berwarna kecoklatan dipermukaan daun. Bintik tersebut membesar dengan cepat. Cara pengendaliannya adalah : Potong dan bakar daun yang terinfeksi. Apabila potongan daun ini dibuang begitu saja dikhawatirkan akan menjadi tempat berkembang biak bakteri dan menulari tanaman lainnya. Sisa pemotongan dapat disemprot dengan bakterisida. Setelah pemotongan daun, sebaiknya tanaman disemprot dengan Clorox atau Formaldehyde. Bagian yang telah dipotong tersebut sebaiknya diberi obat penutup luka. Hindari tetesan hujan secara langsung atau penyiraman saat cuaca berawan. Jika serangan sudah akut, sebaiknya tanaman dicabut dan dibuang.
c.    Busuk Akar
Penyebabnya adalah jamur Rhizoctonia solani. Jamur ini dapat menyerang anggrek dari fase biji hingga tanaman dewasa. Segeralah diganti media pakis yang sudah lapuk untuk menghindari serangan cendawan ini.
Media tanam dengan aliran air buruk juga rawan terserang jamur ini. Gejala yang tampak dari serangan jamur ini adalah daun tertlihat kekuningan dan lama kelamaan akan rontok. Cara pengendaliannya adalah : Gunakan media tanam yang masih bagus dan bersih serta tidak lapuk atau lumutan. Kelembaban media harus dijaga dengan cara tidak memberi air secara berlebihan. Tanaman yang terserang sebaiknya disingkirkan atau dibuang agar tidak menular ke tanaman lain.
d.   Busuk Fusarium
Penyebabnya jamur Fusarium oxysporum. Serangan jamur ini menjalar lewat luka bekas potongan. Tanaman terserang akan mati atau mengalami kemerosotan pertumbuhan dengan cepat. Gejala serangan mirip dengan busuk akar. Daun tanaman akan mengunig, kadang kala akan melintir. Cara pengendaaliannya bagian tanaman yang terserang harus segera dibuang. Sanitasi lingkungan tempat tumbuh anggrek paerlu dijaga. Media tanam sebaiknya direndam dengan larutan pestisida terlebih dahulu.
e.    Busuk Pucuk
Penyebabnya jamur Phytopthora palmivora. Gejala utama serangan membusuknya pucuk-pucuk tanaman pada akar dan bagian bawah daun. Terjadi perubahan warna kuning pada daun, lama-kelamaan menjadi coklat. Tanaman juga menjadi lemas dan mudah sekali roboh. Serangan penyakit ini banyak terjadi pada saat anggrek baru ditanam atau dipangkas. Cara pengendaliannya bila serangan belum parah, bagian yang terinfeksi dipotong dan dibuang. Jika serangan telah mencapai titik tumbuh, seluruh daun harus dibuang. Semprotkan fungisida, seperti Benlate atau Dithane pada pucuk-pucuk tanaman dan bekas luka pemangkasan. Untuk pencegahan, pemberian fungisida bisa dilakukan seminggu sekali. Hindari tanaman dari tetesan hujan secara langsung.



SHARE THIS

Author:

Previous Post
Next Post