BIAYA PEMILIKAN DAN OPERASIONAL ALAT MESIN PERTANIAN

BIAYA PEMILIKAN DAN OPERASIONAL ALAT MESIN PERTANIAN

Memiliki sebuah alat, tidak lepas dari biaya. Baik itu untuk biaya pembelian maupun untuk biaya pemeliharaan. Sama seperti kendaraan, alat pertanian apabila tidak dirawat akan cepat mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan biaya pemeliharaan. Apasaja biaya-biaya pemeliharaan yang diperlukan untuk alat pertanian. Berikut penjabarannya :
1.        Biaya tetap per tahun
a.         Penyusutan; berkurangnya nilai suatu benda modal karena pemakaiannya sepanjang umur pakainya karena berkurangnya kemampuan fisik benda modal tersebut dan berkurangnya fungsi benda modal. Penyusutan dengan metode garis lurus adalah sebagai berikut :
Penyusutan = (P-S)/N, P=harga pembelian dalam Rp,
S = harga akhir dalam Rp,
N = umur ekonomis dalam tahun.
b.         Bunga modal; dihitung karena modal dianggap diinvestasikan di tempat lain dengan tingkat bunga tertentu. Dihitung dengan metode garis lurus : 
Bunga modal = r/100x(P+S)/2, 
r = bunga modal,
P = harga pembelian dalam Rp,
S = harga akhir dlm Rp.
c.         Pemeliharaan dan perbaikan;dianggap tetap karena kerusakannya hanya sekali dalam setahun.
Biaya pemeliharaan dan perbaikan = m/100xP,
m = nilai pemeliharaan dan perbaikan.
d.        Gudang; merupakan biaya yang diperlukan untuk penyediaan tempat, penyimpanan dari benda modal.
Gudang = (h/100) x P,
h = nilai gudang.
e.         Pajak dan asuransi; dikeluarkan unutk membayar benda modal dan asuransi.
Pajak  = (i/100) x [(P+S)/2],
i = nilai pajak,
Asuransi = (t/100) x P, 
t = nilai asuransi.
2.        Biaya tidak tetap per tahun
a.         bahan bakar; yang dibutuhkan alsintan dihitung berdasarkan jumlah bahan bakar yang digunakan oleh alat tersebut.
Bahan bakar = bb x Fp x Wt,
bb = bhn bakar yg digunakan liter/jam,
Wt = jam kerja/tahun,
Fp = harga bahan bakar Rp/liter
b.         minyak pelumas; pelumas = Mp x Wt x Op,
Op = harga minyak pelumas/liter,
Mp = minyak pelumas yang digunakan liter/jam.
c.         Harga grease = 60 % dari pelumas.
d.        Operator = Wt x Ot,
Ot=upah operator/jam.
e.         Ban = (n x Tp)/Nt,
n = jumlah ban (buah)
Tp = harga/buah (Rp),
Nt = umur pakai ban (tahun). total  biaya kerja per tahun adalah jumlah dari biaya tetap dan biaya tidak tetap pertahun
Dari dua biaya tersebut anda didapatkan nilai biaya total operasional/tahun. Dari nilai ini bisa kita hitung biaya/jam atau biaya/satuan luas.
Biaya/jam = (A+B) Wt
 
Dimana :         
A = biaya tetap/tahun            
B = biaya kerja/th                   
Ka = kapasitas aktual


SPRAYER

SPRAYER

Sprayer adalah alat/mesin/bentuk mekanisme yang memecah suatu cairan/larutanaman suspensi mnjd partikel- partikel kecil (butiran tetesan - dari oplets) yang halus dengan ukuran tertentu dan disebarkan scara hidariolis, pneumatis, gravimetris/kombinasi dari cara tersebut, serta didistribusikan scara seragam dengan penetrasi yang cukup keseluruh bagian tanaman yang mengalami serangan/sebagai sumber serangan hama penyakit.
Macam-macam Sprayer :Ditinjau dari sumberdaya penggeraknya, sprayer dibedakan menjadi 2  : sprayer yang digerakkan dengan sumberdaya penggerak manusia dan sprayer yang digerakkan dengan daya penggerak motor. Ditinjau dari ukuran dan prinsip kerjanya, sprayer dapat digolongkan sebagai berikut: Hydariaulic sprayer, Hydopneumatic sprayer, Blower sprayer, Aerosol generator (fog-machines).
Bagian-bagian utama dari sprayer :
a.         Tangki, untuk tempat bahan cair yang disemprotkan,
b.        Bagian yang menghsilkan tekanan terhadap cairan yang akan disemprotkan.
Pada sprayer hidariolis, penekan cairan dengan mempergunakan pompa yang berbentuk piston, roda gigi, pompa baling-baling yang mempergunakan impeller. Pada sprayer yang mempergunakan udara bertekanan (pneumatic-sprayer) pompa penekan udara dapat berupa pompa tekan hisap.
c.         Bagian yang membentuk butiran cairan halus (atomizing devices).
Bagian dari sprayer yang berfungsi untuk memecah cairan menjada butiran-butiran halus, biasa disebut nozzle. Macam – macam nozzle antara lain adalah gas-atomizing-nozzle, centrifugal/rotating-nozzle, dan pressure-nozzle. Ada tiga pressure-nozzle, yaitu :  hollow cone-nozzle, solid-cone-nozzle, dan fan-type-nozzle.
d.        Distribusi cairan (slang),
e.         Pengaduk/Agitator, dipakai untuk mengaduk bahan cairan yang akan disemprotkan yang berujud emulsi/suspensi bahan yang tidak dapat terlarut. Cara mengaduknya dapat scara mekanis/hidarolis.
f.         Bagian-bagian pelengkap terdiri atas:
1.         Petunjuk tekanan cairan tangki, 
2.         Klep penutup,
3.         Tali penyandang dan lain-lain

Faktor - faktor yang mempengaruhi efektivitas penggunaan sprayer :
a.         Faktor yang berasal dari peralatanaman sendiri :
1.         Lebar nozzle
Makin lebar nozzle untuk tipe yang sama, maka penyebaran ukuran butirannya, makin tdk seragam dan mempunyai ukuran butiran yang mjd lebih besar. 
2.         Tekanan
Tekanan akan mempengaruhi ukuran butiran cairan yang dihasilkan untuk suatu nozzle yang sama. Makin besar tekanannya proses penumbukkan cairan pada waktu akan keluar dari nozzle makin besar,
3.         Bentuk nozzle
Untuk tiap-tiap nozzle mempunyai ciri sendiri dalam hal pembentukkan ukuran butirannya.
b.        Faktor yang ditentukan oleh cairannya
c.         Faktor-faktor luar :
1.         Kerapatan udara dan lengas nisbi udara berpengaruh terhadap penguapan dan tahanan jatuhnya butiran.
2.         Angin/gerak udara, mempengaruhi ukuran penyebaran butiran udara.
3.         Suhu udara mempengaruhi penguapan.
4.         Faktor yang dimiliki oleh tanaman, habitus, kerapatan tumbuhan, tingkat pertumbuhan tanaman dan lain-lain.
5.         Pengukuran karakteristik kerja

Perhitungan untuk menentukan berapa jumlah bahan kimia yang diperlukan dalam satuan liter/menit
           
 

q          =          bahan kimia yang diperlukan, lt/menit lewat 1 nozzle,
V         =          kecepatanaman kerja, km/jam
B         =          lebar kerja efektif, m. 
N         =          jumlah larutan bahan kimia, lt/ha

Kalau penghasilan cairan untuk setiap waktu tidak sama seperti pada hand sprayer tipe knapsack maupun pada sprayer bertekanan udara dimana tekanan udara tidak dapat dibuat tetap, besarnya q diperhitungkan :

 

Dimana a faktor penghslan nozzle 0,50 – 0,70

Kalau nozzle-nya ganda / jumlahnya lebih besar dari satu dipasang pada suatu batang, maka besarnya penghasilan     :
q:kecepatanaman jalan x panjang lengan x jml volume larutanaman kimia yang diperlukan per satuan luas tertentu.

 

Lebar kerja efektif merupakan lebar kerja penyemprotan optimal yang menghslkan sebaran melintang volume per satuan luas yang lain seragam. Lebar kerja penyemprotan adala antara jarak suatu garis lintasan penyemprotan dengan lintasan garis berikutnya, sebelahnya. Untuk memperoleh lebar kerja yang efektif, pengambilan garis lintasan berikutnya dilakukan sedemikian rupa sehingga terjadi saling tumpang tindih (overlapping) antara penyemprotan yang terdahulu dengan penyemprotan berikutnya sehingga ketidakseragaman yang dihslkan oleh satu pola penyebaran ditutup dengan pola penyebaran berikutnya.

Cara mencari lebar kerja efektif :
Dicari pola penyebaran melintang dari satu lintasan penyemprotan dengan cara mencoba menyemprotkan sprayer diatas suatu deretan melintang alur-alur penampang dalam jangka waktu tertentu. Masing-masing tampang dari setiap alur dikumpulkan dan diukur volumenya (misalnya Xi, dimana i adalah nomer urut alur penampang dari kiri ke kanan / sebaliknya). Maka didapatkan pola penyebaran melintang dari harga-harga xi dari i = 1 sampai I = n, dimana n adala nomor terakhir alur  yang menampung semprotan.
Pola yang didapat tadi dianalisa untuk mendapatkan lebar efektifnya dengan dua cara yaitu scara grafis dan scara statistik.
a.         Secara grafis
1.         Dibuat grafik yang menggbrkan pola penyebaran (absis adalah i, ordinat adalah Ki),
2.         Dicoba suatu lebar kerja tertentu yaitu digambar lagi pola-pola tadi di sebelahnya setelah digeser selebar, lebar – kerja percobaan tadi.
3.         n   alur  gabungan (overlapping) dari penyemprotan dengan lebar kerja yang dicoba tadi diperoleh dari menjumlahkan harga x yang ada pada setiap titik, dan hasilnya digambarkan.
4.         Keseragaman / kerataannya dari gambar hasil penjumlahan di atas.
5.         Dicoba-coba lagi untuk lebar kerja yang lain sehingga didapatkan gambar grafik yang dilihat/diperkirakan paling seragam.
6.         Setelah diperoleh maka lebar kerja yang menghasilkan grafik yang paling seragam tadi adalah lebar kerja efektifnya.
b.        Secara statistik
Cara seperti pada cara grafik tadi yaitu dicoba pada berbagai lebar kerja dan pola gambarnya diperoleh dari penjumlahan tumpang tindihnya. Hanya bedanya pemilihan lebar kerja yang efektif tidak hanya didasarkan pada perkiraan gambar, tetapi didasarkan pada  hasil perhitungan suatu besaran kuantitatif yang dinamakan koefisien variasi, dimana koefisien variasi :

    

1.         Harga CV tadi dibanding-bandingkan untuk berbagai percobaan lebar kerja dengan membuat daftar lebar kerja dan CV.
2.         Lebar kerja efektif dipilih dari lebar kerja dengan CV yang minimum (paling merata).
3.         Lebar kerja = n x b,
4.         b = lebar 1 alur


MESIN PENANAM (SEEDER)

MESIN PENANAM (SEEDER)

Kita tentu saja sudah mengetahu mesin penanam, bahkan diantaranya sudah pernah menggunakannya ataupun telah memilikinya. Nah, untuk yang belum tahu atau baru mendengar tentang mesin tersebut, berikut akat dipaparkan mengenai fungsi mesin tersebut.
Fungsi seeder ialah untuk meletakkan benih yang akan ditanaman dengan kedalaman, jumlah tertentu dan seragam, dan pada sebagian besar alat penanam menutup dengan tanamanan kembali. sifat fisik benih yang mempengaruhi penggunaan seeder : ukuran, bentuk, keseragaman bentuk dan ukuran, jumlah persatuan volume, dan ketahanan terhadp tekanan dan gesekan. Bagian-bagian mesin penanam :

1.        Seed Metering Devucews (SMD);
Merupakan alat untuk membagi benih dalam jumlah tertentu sesuai dengan persyaratanaman yang dituntut oleh pertumbuhan tanamanaman.
2.        Tabung penyalur (Seed Tube);
Berfungsi menyalurkan benih ke alur yang dibuat furrow opener. Bentuk panjang dan kekasaran mempengaruhi pengaliran benih. Dalam pengalirannya diharapkan benih dapat dialirkan dengan kecepatanaman yang sama dan kontinyu. Untuk ini harus diperhatikan pemantulannya pada dinding saluran, hambatan tanaman dan panjang saluran.
3.        Alat pembuat alur (Furrow opener);
Untuk pertumbuhan tanaman yang baik dituntut suatu kedalaman tertentu. Kedalaman tanaman ditentukan oleh jenis tanaman, kelengasan, dan temperatur tanaman. Bentuk alat ini disesuaikan dengan permukan tanaman (jenis tanaman, vegetasi, seresah dan kekasaran permukaan), hal ini berkaitan aman dengan penetrasi, pemotongan oleh alat dan pembentuk alur. Macamnya runner, hoe, disk.
4.        Alat penutup alur (Seed covering devices);
Berfungsi menutupi benih yang sudah berada dalam alur dengan tanaman kembali. Hal ini bertalian dengan pertumbuhan kecambah, akan baik bila benih tersebut berada dalam lingkungan tanaman yang lembab dan bertalian dengan iklim. Dalam penutupan ini diharapkan tanaman yang menutupi dalam keadaan yang cukup baik untuk dapat ditembus oleh tanaman.

Kebutuhan benih per hektar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
 
N         =          Kebutuhan benih per hektar (kg), 
A         =          Jml pertumbuhan per hektar (dalam jutaan)
X         =          Faktor kualitas benih (%),
Q         =          Berat absolut per 1000 biji (kg)

Dimana :
 
C         =          Kebersihan benih (%),
E          =          Daya tumbuh (%)



ALAT PENGOLAH TANAH

ALAT PENGOLAH TANAH

Sebelum melakukan budidaya tanaman, biasanya kita melakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Untuk mengolah tanah tersebut diperlukan alat. Dan dalam dunia pertanian ada beberapa macam alat pengolah tanah. Adapun alat pengolahan tanah yang biasa digunakan adalah : pengolah tanah pertama, pengolah tanah kedua dan pengolah tanah terakhir.

1.        Peralatan pengolah tanah pertama (primary tillage equipment)
a.    Bajak singkal (Molboard plow)
-       Bajak singkal satu arah (one way molboard plow)
-       Bajak singkal dua arah (two way/reversible molboard plow)
Bagian-bagian utama bajak singkal antara lain pisau bajak (share), singkal (mold board), penstabil bajak (land side). Gagian-bagian tambahan meliputi roda alur penstabil (furow wheel), roda dukung (land wheel), coutter, jointer, kerangka (beam).
b.    Bajak piringan (disk plow)
-       Bajak piringan standar; setiap piringan mempunyai poros sendiri
-       Bajak piringan vertikal; setiap piringan dirangkai dalam satu poros
-       Arah lemparan bajak piringan satu arah, bajak piringan dua arah.
Bagian-bagian utama bajak piringan : piringan (disk), portos, penggaruk piringan (scaper), roda alur dan roda dukung (beam).
c.     Bajak putar (rotary plow)
Mesin pemutar tersendiri (self propelled unit). Tenaga pemutar dari PTO traktor (PTO drives tractor).Bagian utama bajak putar : pisau, poros putar, rotor, penutup belakang , roda dukung (land wheel)
d.    Bajak pahat (chisel plow)
Bagian bajak pahat meliputi; mata bajak, boor (tangkai/batang)
e.     Bajak tanah bawah (sub soil plow)
Seperti bajak pahat tetapi lebih berat, untuk tanah berat dengan kedalaman 50 – 90 cm.

2.        Peralatan pengolahan tanah kedua (secondary tillage equipment)
a.    Garu piringan (disk harraw)
Dari bajak piringan ukuran dan kecekungan lebih kecil, jumlah piringan lebih banyak. Bagian-bagiannya meliputi: poros piringan, penggerak piringan, kerangka dan roda dukung.
Tipe pemasangan piringan :
-       Single (dua rangkai satu aksi)
-       Offset (dua rangkai, dua aksi)
-       Tandem (empat rangkai dua aksi)
b.    Garu bergigi paku (garu sisir)
Bentuk paku; lurus runcing, pipih, belimbing (diamont shoop).
c.    Garu putar (rotary harrow)
Pisau lebih pendek dibanding rotary plow.
d.   Garu per/pegas (springs tooth harrow)
e.    Garu khusus (special harrow) merupakan pencacah gulma, penggembur tanah, garu pemotong putar.

3.        Peralatan pengolahan tanah terakhir (finishing tillage equipment)
Merupakan alat perata (leveler) dan alat penggulud / pembedeng (ridger)


BUDIDAYA TANAMAN ANGGUR (Vitis Sp.)

BUDIDAYA TANAMAN ANGGUR (Vitis Sp.)

Banyak sekali cara budidaya tanaman anggur yang sudah sering and abaca. Namun, untuk mengingatkan disini saya coba mengulasnya kembali. Yang mudah-mudahan dapat berguna bagi yang membutuhkannya.
Langkah-langkah budidaya tanaman anggur akan saya jabarkan satu persatu, berikut penjabarannya.
1.        Pembibitan
a.    Pengadaan Benih
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, stek cabang, stek mata, penyambungan). Perbanyakan tanaman yang paling efektif anggur adalah dengan menggunakan stek. Bibit stek yang baik adalah :
1)    Panjang stek sekitar 25 cm terdiri atas 2-3 ruas dan diambil dari pohon induk yang sudah berumur di atas satu tahun.
2)    Bentuknya bulat berukuran sekitar 1 cm.
3)    Kulitnya berwarna coklat muda dan cerah dengan bagian bawah kulit telah hijau, berair dan bebas dari noda-noda hitam.
4)    Mata tunas sehat berukuran besar dan tampak padat. Mata tunas yang tidak
5)    sehat ukurannya kecil dan ujungnya tampak memutih seperti kapuk.

b.    Teknik Penyemaian Benih
Cara generatif bibit disemai di tempat yang telah disediakan. Cara vegetatif (stek) yaitu :
1)    Pembibitan dikerjakan dengan menyemaikan lebih dulu dalam pot/keranjang sempai kira-kira selama 5 hari
2)    Setelah itu dipindah ke media semai berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Media semai ini berupa polybag/keranjang yang lebih besar dari tempat awal.

c.     Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
1)   Selama di persemaian selalu disiram dan jangan sampai tergenang.
2)   Penyemaian bibit di tempat teduh dan lembab selama sekitar 2 bulan.
d.    Pemindahan Bibit
1)   Sekitar 2 bulan tersebut bibit sudah tumbuh dan berakar banyak siap untuk dipindah ke lapangan dengan memilih yang segar dan sehat kondisinya.
2)   Penanaman dilakukan di awal musim kemarau/saat panas tertinggi.

2.        Pengolahan Media Tanam
a.         Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan adalah:
1)        Menentukan lokasi penanaman.
2)        Menentukan luas areal tanam.
3)        Mengatur jarak tanam.
4)        Membuat lubang tanam.
5)        Menentukan dosis pupuk kandang yang diperlukan.
b.    Pembukaan Lahan
Lahan yang digunakan dibersihkan dan tidak terlindung dari sinar matahari. Pencangkulan untuk pembuatan lubang tanam dilakukan setelah ada pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibiarkan terkena sinar matahari selama 2-4 minggu.
c.     Pengapuran
Pengapuran hanya dilakukan bila pH tanah rendah/terlalu asam.
d.    Pemupukan
Setelah 2-4 minggu lubang tanam diisi pupuk kandang, pasir dan tanah dengan perbandingan 2:1:1.
3.        Teknik Penanaman
a.    Penentuan Pola Tanam
Tanaman anggur merupakan tanaman monokultur. Pengaturan jarak tanam
penting diperhatikan dan juga sesuai dengan larikan karena arah datangnya angin sangat besar pengaruhnya. Jarak tanam bisa diatur dengan pola: 3 x 3 m, 4 x 4 m, 3 x 5 m, 3 x 4 m, 4 x 5 m, 4 x 5 m, 3 x 5 m dan 4 x 6 m.
Jarak tanam mempengaruhi jumlah tanaman persatuan luas :
1)        3 x 3 m untuk 1 Ha = 1.111 pohon
2)        3 x 4 m untuk 1 Ha = 833 pohon
3)        3 x 5 m untuk 1 Ha = 666 pohon
4)        4 x 4 m untuk 1 Ha = 625 pohon
5)        4 x 5 m untuk 1 Ha = 500 pohon
6)        4 x 6 m untuk 1 Ha = 416 pohon
b.    Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam yang diperlukan berukuran 60 x 60 x 60 cm yang disesuaikan dengan jarak tanam, isi lubang berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2.
c.     Cara Penanaman
Penanaman bibit anggur terbaik pada saat musim kemarau, sekitar Juni dan Juli. Setiap tanaman perlu lahan 20 m² termasuk para-paranya yang harus dipersiapkan sebelum tanamannya tumbuh. Para-para ini berguna untuk merayapkan batang dan cabangnya secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga diberi ajir bambu untuk titian setelah bibit ditanam, agar pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.
4.        Pemeliharaan Tanaman
a.    Penyulaman dan Penjarangan
Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/mati.
Pengontrolan dilakukan rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian kontinyu. Penjarangan buah sangat penting karena buah yang terlalu rapat justru merusak perkembangan buah dan menurunkan kualitas buah.
Dalam penjarangan buah buah yang perlu dibuang adalah:
(1)       yang bertangkai panjang;
(2)      tidak sempurna bentuknya;
(3)      buah yang ada di sebelah dalam;
(4)      buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.
Penjarangan dilakukan dalam dua tahap, tahap satu saat umur satu bulan setelah pembungaan dan buah masih pentil, tahap dua dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Untuk menjaga kualitas buah, juga perlu dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Pembungkusan dilakukan bila dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak. Bahan yang umum dipakai bungkus adal kertas semen dan kertas koran.
b.   Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat tanaman pengganggu sekitar tanaman anggur.
c.    Perempalan
1)   Perempalan bentuk pada anggur dilakukan mulai tanam sampai umur 1 tahun, bertujuan untuk mendapat pertumbuhan yang baik, dengan cara membuang tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.
2)   Perempalan untuk pembuahan dilakukan setelah anggur berumur 1 tahun. Sebelum perempalan diperiksa dahulu dengan memotong ujung salah satu cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, tetapi bila tidak harus ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi gundul. Dalam 1 tahun dilakukan 3 kali perempalan:
a)    Tahap I : Maret-April, 90-110 hari
b)    Tahap II : Juli-Agustus, 90-110 hari
c)    Tahap III : Nov-Des, tahap ini sering gagal
Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil. Tujuannya hanya untuk memelihara tingkat kesuburan tanaman sampai musim hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.
d.    Pemupukan
Ada dua masa pemupukan:
1)        Pemupukan tanaman muda (0-1 tahun)
a)    Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari
b)    Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari
c)    Umur 6-12 bulan, 50 gram urea
Cara pemberian dengan membuat larikan melingkar sekeliling tanaman diameter 10-20 cm sedalam 5 cm.
2)        Pemupukan tanaman dewasa (1-seterusnya)
a)    Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang
b)    Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK
c)    Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea
Pupuk kandang diberikan sekali setahun, tahun kedua dosis dinaikkan jadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter 1,5 m.
e.     Pengairan dan Penyiraman
Yang perlu diperhatikan adalah:
1)   Anggur tidak tahan pada air yang tergenang.
2)   Anggur butuh pengairan yang harus dilakukan mulai tanam sampai pemangkasan.
3)   Menjelang pemangkasan, 3-4 minggu sebelumnya pemberian air harus dihentikan.
4)   Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai ujung ranting mengeluarkan air.
5)   Pemberian dilakukan sampai buahnya hampir masak, setelah mulai tua pemberian air dihentikan supaya buah tidak pecah dan busuk.
f.     Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai pencegahan terhadap hama yang mengganggu pada anggur. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera Vitifolia digunakan insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.
g.    Pengaturan Bunga
Setelah dua minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5.
Bila ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur dapat diadakan pemotongan dengan meninggalkan 3 mata bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja, agar menghasilkan dompol bunga yang besar dan buahnya bisa bermutu tinggi.

5.        Panen
a.    Ciri dan Umur Panen
Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105–110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam satu tandan telah rata, butir buah mudah lepas dari tandan dan keadaan buah kenyal serta lunak.
b.   Cara Panen
Cara panen dilakukan dalam cuaca yang cerah dan di pagi hari dengan pemetikan yang hati-hati (jangan sampai bedak hilang). Hasil pemetikan dimasukkan keranjang/dos karton diusahakan penempatannya tidak menumpuk, agar buah yang terletak di bawah tidak rusak dan pecah.
c.    Periode Panen
Tanaman anggur dalam satu tahun mengalami dua kali panen.
d.   Prakiraan Produksi
Dari areal tanaman anggur 1 ha dengan rasio jarak tanam 4 x 5, jumlah tanaman 500 batang dengan hasil panen per tahun rata-rata 7.500 kg anggur.

6.        Pasca Panen
a.    Pengumpulan
Pengumpulan anggur tidak boleh ditumpuk karena dapat merusak buah di bawahnya. Hal yang penting bedak yang terdapat pada anggur dijaga agar tidak hilang.
b.   Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan menyingkirkan buah yang rusak dan buah yang masih terlalu muda dalam satu dompolan. Kemudian anggur digolongkan menurut ukuran dompolan dan keseragaman besar buah.
c.    Penyimpanan
Cara terbaik dalam penyimpanan adalah dengan memasukkan dalam ruang
pendingin untuk mengurangi penguapan, tetapi cara yang mudah, ringkas dan kapasitas penyimpanan besar adalah dengan menggantung anggur untuk dianginanginkan dalam ruang yang sejuk.
d.   Pengemasan dan Pengangkutan
Cara menggunakan keranjang bambu dilapisi kertas koran. cara ini kurang baik karena banyak buah yang rusak. Cara terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi dengan serbuk gergaji sehingga kerusakan buah dapat ditekan saat pengangkutan.