Kamis, 21 Mei 2015

PANEN DAN PASCA PANEN TANAMAN GLADIOL



A.       Panen 
Budidaya bunga gladiol dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen dapat dilakukan setiap minggu. Biasanya budidaya tanaman gladiol dilakukan berdasarkan pesanan pasar, sehingga panen dapat terus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. 
1.         Ciri dan Umur Panen 
Tanaman gladiol berbunga pada umur 60-80 hari setelah tanam, tergantung pada kultivarnya. Bunga pertama akan mekar sekitar 10 hari setelah primordia bunga muncul. 
Bunga dapat dipetik setelah warna dari 1 atau 2 floret terbawah telah dapat dilihat dengan jelas tetapi belum mekar. Jika kuncup bunga dibiarkan sampai mekar penuh, kerusakan akan mudah terjadi terutama selama pengemasan dan pengangkutan. Bila bunga dipanen terlalu awal, (sebelum floret terbawah menampakan warna bunga), maka akan ada kemungkinan bunga tidak dapat mekar dengan sempurna.
2.         Cara Panen 
Pemanenan dilakukan secara hati-hati dengan menyertakan 2-3 daun pada tangkai bunga dan menyisakan daun-daun pada tanaman sebanyak mungkin minimum 4 daun. Pemotongan tangkai bunga dengan pisau tajam dan bersih supaya terhindar dari kontaminasi jasad renik Jika menggunakan pisau tumpul, terjadi luka lebih lebar pada permukaan dasar tangkai bunga, memungkinkan terjadi infeksi.
3.         Periode Panen 
Bunga gladiol tergolong bunga yang mudah kehilangan air. Sebaiknya panen bunga dilakukan pagi hari, karena saat tersebut bunga gladiol berturgor optimum. Kandungan karbohidrat yang rendah dapat diperbaiki dengan larutan pengawet yang mengandung gula.  
Panen bunga tidak dianjurkan pada saat suhu udara tinggi (siang hari) atau pada turgor rendah, bunga basah oleh embun, hujan atau sebab lain. Bunga yang basah akan mudah terserang oleh cendawan Botrytis gladiolorum (blight), walaupun pada kondisi suhu udara yang rendah. 
4.         Prakiraan Produksi 
Untuk seluas 1 hektar akan menghasikan panen bunga ± sebanyak 200.000 potong. Budidaya bunga potong gladiol dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen bunga (pemanenan terbanyak) dilakukan setiap minggu. Secara teknis dapat diatur dengan pemetakan lahan, sehingga dalam satu saat terdapat lahan siap olah, siap tanam, dan siap panen.

B.        Pascapanen 
1.         Pengumpulan 
Bunga gladiol sangat peka terhadap kekuatan gaya berat dan akan selalu cenderung melengkung pada suhu udara tinggi, sehingga berakibat terjadinya perubahan bentuk dan penurunan kualitas. Oleh karena itu bunga potong gladiol yang dipanen dikumpulkan dan diletakan tegak lurus diruangan pada suhu udara rendah (selama penyimpanan/pengangkutan). 
2.         Penyortiran dan Penggolongan 
Setelah dipanen, dilakukan penyortiran dan penggolongan sesuai dengan ukuran. Bunga dibersihkan dari kotoran yang menempel, dengan hati-hati,(bila perlu) cukup diperciki atau disemprot air saja. Hal ini menjaga agar mahkota bunga tidak rusak. 
Bunga dipilih yang bagus bentuknya, tidak terkena penyakit atau luka, dikelompokan sesuai dengan kebutuhan, (berdasarkan tingkat kesegaran/ukuran bunga). Penggolongan ini dimaksudkan untuk mempertahankan nilai jual sehingga bunga yang bagus tidak turun harganya akibat tercampur dengan yang bunga gladiol yang berkualitas rendah. 
3.         Penyimpanan 
Penyimpanan bertujuan untuk memperlambat proses kelayuan bunga sebelum sampai kekonsumen, biasanya dilakukan pada saat bunga:
a.    Baru saja dipetik, menunggu pemanenan selesai.
b.    Setelah dipanen tidak segera dijual/diangkut.
c.    Diperjalanan sebelum sampai kekonsumen. 
Dalam tahap ini, bunga dikondisikan agar tetap segar, karena bunga potong sangat sensitif terhadap dehidrasi maka air yang hilang harus diimbangi dengan larutan perendam yang mengandung air dan senyawa lain yang diperlukan. Penyimpanan berkaitan erat dengan suhu udara. Makin rendah suhu udara, makin lambat terjadi penurunan mutu. Suhu udara penyimpanan bunga yang berasal dari daerah tropika relatif lebih tinggi, umumnya berkisar antara 0-5 derajat C. 
4.         Pengemasan dan Pengangkutan 
Sistem pengemasan yang baik bertujuan melindungi bunga selama pengangkutan dan sebagai sarana promosi yang dapat meningkatkan harga jual. Cara pengemasan yang paling sederhana yaitu dengan membungkus tangkai bunga dengan daun pisang, kemudian memasukan kedalam ember berisi air sehingga tangkai bunga tercelup dan membungkus bagian atas bunga dengan plastik yang sebelumnya sudah dilubangi. Pengemasan seperti ini umum dilakukan oleh pedagang pengecer yang langsung berhubungan dengan konsumen. Pengemasan yang lebih baik biasa untuk bunga yang akan menempuh perjalanan atau untuk promosi, digunakan bahan pengawet adalah sukrosan dan 8-hydroxyquinoline citrate.
Mengingat sifat bunga yang selalu dikonsumsi dalam keadaan segar dan bagus berpenampilan maka dituntut sistem pengangkutan yang bisa bergerak cepat. Faktor yang perlu diperhatikan yaitu suhu udara selama pengangkutan dan susunan kemasan agar tidak terlalu tinggi serta tahan goncangan. Sarana pengangkutan biasa menggunakan mobil box yang dilengkapi alat pengatur suhu udara.  


HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN GLADIOL (Gladiolus hybridus)



1.         Hama
a.    Thrips gladiol (Taeniothrips simplex / Mor)
Hama ini sering dijumpai disetiap area pertanaman gladiol di seluruh dunia, yang dapat menimbulkan kerusakan berat (di lapangan). Gejala: bercak-bercak berwarna keperak-perakan pada permukaan daun, merusak jaringan daun/bunga dan mengisap cairan yang keluar dari bagian tanaman dengan menggunakan alat mulutnya. Tanaman yang terserang hama ini akan timbul bercak-bercak putih dan akhirnya menjadi coklat dan mati. Serangga muda (nimfa) berwarna kuning pucat dan lebih suka makan pada bagian bunga dan kuncup. Panjang tubuh hama dewasa ± 2,5 mm, berbentuk ramping, pipih, berwarna coklat tua atau hitam. Pengendalian: dapat dilakukan dengan penyiangan gulma atau dengan menggunakan insektisida yang mengandung dimetoat, endusolfan, formothion, karbaril, merkaptodimetur dan metomil. 
b.    Kutu putih (Pseudococcus sp.)
Gejala: menyerang umbi gladiol saat penyimpanan, dan di lapangan, dengan menusukan alat mulutnya kedalam umbi untuk menghisap cairan tanaman, sehingga tunas/akar terhambat pertumbuhannya dan gagal panen. Pada serangan berat umbi jadi keriput, kering dan mati. Ukuran tubuh serangga dewasa betina 4 mm dan mampu bertelur sampai 200 butir (diletakan berkelompok). Pengendalian: merendam subang dalam larutan insektisida 30-60 menit, yang mengandung bahan aktif asefat, nikotin, triazofos, kuinalfos dan lainnya.  
c.    Ulat pemakan daun (Larva Lepidoptera)
Gejala: hama ini menyerang dengan membuat lubang-lubang pada permukaan daun dan bunga. Bentuk, warna, ukuran larva-larva  sebagai minor pest pada tanaman gladiol sangat bervariasi, tergantung pada spesiesnya. Panjang ulat  famili Lymantriidae mencapai 3,5-4,0 cm. Penanggulangan: menyemprot insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis. 

2.         Penyakit 
a.    Layu fusarium (Penyakit busuk kering fusarium)
Penyebab: cendawan F. oxysporum var. gladiol atau F. orthoceras var gladiol. Gejala: daun gladiol yang terserang menguning, agak memilin. Pada serangan yang lebih lanjut, pertumbuhan tanaman kerdil dan mudah patah. Pada subang yang terserang tampak  bercak dan dalam keadaan lembab hifa patogen yang berwarna putih seperti kapas menutupi permukaan bercak tadi dan menjalar kebagian tanaman lainnya. Pengendalian: menyimpan subang ditempat tidak lembab serta merendam sebelum ditanam, kedalam larutan suspensi fungisida benlate selama 30 menit. 
b.    Busuk kering
Penyebab: cendawan Botrytis cinerea atau B. gladiolorum. Gejala: bunga berbintik-bintik, berkembang menjadi bercak-bercak, subang yang terserang busuk daun bintik-bintik agak kelabu, kemudian berkembang menjadi bercak-bercak berwarna hitam keabu-abuan. Pengendalian: menganginkan (mengeringkan) subang yang dipanen sebelum disimpan pada tempat yang kering atau dengan menyemprotkan fungisida  captan, zineb atau nabam. 
c.    Busuk keras
Penyebab: Septoria gladioli, Gejala: sama dengan gejala busuk kering, tetapi berbeda pada tubuh buah patogennya. Bintik-bintik kecil coklat tampak pada permukaan bagian bawah/bagian atas daun yang terserang patogen. Tanaman/bibit yang terserang patogen tersebut umumnya berasal dari anak subang, sedang yang berasal dari subang jarang terserang. Pengendalian: sama seperti untuk busuk kering. 
d.    Busuk kubang (Busuk kapang biru)
Penyebab: cendawan Penicillium gladioli yang termasuk patogen lemah. Patogen masuk dan menginfeksi subang gladiol bila di bagian subang terdapat luka yang disebabkan oleh serangga, alat-alat pertanian dan sebagainya. Gejala: pada subang yang terserang patogen tersebut terdapat lesio berwarna merah kecoklatan yang dalam waktu singkat bagian tersebut akan ditutupi koloni cendawan berwarna biru dan subang membusuk. Pengendalian: menyimpan subang dengan baik, setelah dikering udarakan dahulu, serta mencegah subang luka.
e.    Hawar bakteri
Penyebab: Xanthomonas gummisudan. Yang berkembang dengan cepat pada keadaan lingkungan yang basah atau drainase kurang baik. Gejala: ada bercak-bercak horizontal cekung berair berwarna hijau tua yang berubah menjadi coklat dan berkembang sampai menutupi hampir seluruh permukaan daun sampai daun kering. Patogen ditularkan melalui subang atau percikan air hujan. Pengendalian: memilih subang yang sehat dan merendam subang tanpa kulit selama 2 jam dalam suspensi larutan bakterisida. 


TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN GLADIOL (Gladiolus hybridus)



A.       Pembibitan 
Bibit dapat berasal dari pembiakan generatif, vegetatif, dan kultur jaringan. Umumnya, pembibitan yang berasal dari vegetatif dan kultur jaringan lebih cepat dapat dipetik hasilnya dari pada pembibitan dengan cara generatif. 
1.         Persyaratan Benih 
Bibit dari subang bibit yang baik menghasilkan bunga berdiameter minimum 2,5 cm, kecuali untuk kultivar Golden Boy yang cukup berdiameter 1 cm. Bibit harus dipilih yang sehat, tidak cacat. Bibit vegetatif yang baik yang mempunyai daya kecambah lebih dari 90%. Bibit generatif harus berasal dari induk dengan pertumbuhan baik dan cukup umur. 
2.         Penyiapan Benih 
Perbanyakan generatif gladiol dengan biji, digunakan untuk mendapatkan kultivar baru bukan untuk tujuan bibit produksi. Biji didapat dengan cara penyerbukan buatan dibantu manusia.
Perbanyakan vegetatif gladiol dilakukan dengan menggunakan umbi (anak subang), bibit belah (subang belah), kultur jaringan maupun suspensi sel. Umbi dan anakan umbi diambil dari tanaman yang sudah dipanen. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu cara alternatif untuk menanggulangi kendala-kendala dalam perbanyakan secara konvensional. Bibit (subang) yang dibutuhkan untuk 1 hektar lahan adalah sekitar 213.063 buah.  
Subang dan anak subang yang akan dijadikan bibit tidak dapat segera tumbuh bila ditanam meskipun pada lingkungan tumbuh yang cocok dan optimal, karena memerlukan masa dormansi. Selama masa dormansi subang dan anak subang yang telah kering disimpan ditempat yang beraliran udara baik dan terhindar dari cahaya matahari langsung. Subang yang telah dipisahkan dari batangnya disimpan selama ± 2 minggu.  
3.         Teknik Penyemaian Benih 
Biji gladiol dapat langsung disemai, tanpa mengalami masa dormansi, biji akan berkecambah setelah 7-12 hari. Daun yang tumbuh dari biji hanya berjumlah 1-2 helai. Tanaman tumbuh sampai kira-kira 5 bulan dan menghasilkan anak subang yang berdiameter kurang dari 1 cm. Anak subang ini kemudian memasuki masa dormansi. 
4.         Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian 
Penanaman gladiol dengan bibit anak subang yang baru muncul dari stolon yang menghubungkan subang induk dengan subang baru. Perbanyakan dengan menggunakan anak subang yang berdiameter sekitar 1,0 cm memerlukan 2 kali penanaman untuk mencapai ukuran subang yang dapat menghasilkan bunga. Penanaman pertama dari anak subang tersebut memerlukan waktu sekitar 4 bulan hingga panen subang kecil.  
Subang kecil hasil panen pertama akan berdiameter sekitar 2 cm. Subang kecil setelah dipanen akan mengalami masa dormansi minimal 3,5 bulan. Setelah masa dormansi terlewati, subang kecil dapat ditanam kembali. Waktu yang diperlukan untuk penanaman kedua kira-kira sama dengan waktu penanaman pertama. Subang dari panenan kedua akan berdiameter 3 cm dan merupakan bibit yang siap berbunga. Untuk rata-rata setiap kultivar gladiol, anak subang yang berdiameter sekitar 1 cm akan menjadi subang bibit yang siap berbunga dalam waktu 16 bulan. 
5.         Pemindahan Bibit 
Bibit gladiol siap ditanam bila sudah melewati masa dormansinya dengan ciri munculnya akar berupa tonjolan kecil berwarna putih melingkar dibagian bawah subang. Pecahnya dormansi juga ditandai dengan munculnya mata tunas. Bila tunas mencapai tinggi 1 cm, maka subang siap ditanam. Penanaman yang terlambat menyebabkan tunas semakin tinggi dan akar semakin panjang, sehingga akan terjadi kerusakan akar pada waktu penanaman,

B.       Pengolahan Media Tanam 
1.         Persiapan 
Lahan yang akan di tanami gladiol perlu di ukur pH tanahnya. Bila sesuai dengan pH tanah yang disyaratkan, lakukan pengukuran luas lahan yang akan ditanami. Kemudian analisa jenis tanah, apa bila lahan tersebut sebelumnya pernah ditanami gladiol sebaiknya tanah didiamkan minimal selama satu tahun. 
2.         pembukaan Lahan 
Lahan yang telah dianalisa, diukur dan dibersihkan dari gulma, batu-batuan, serta tanaman liar lain, kemudian bajak dan dicangkul sampai gembur. Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan 2 minggu sebelum tanam. 
3.         Pembentukan Bedengan 
Bila pemanenan bunga dilakukan setiap saat, maka lahan yang digunakan sebaiknya dibuat beberapa petak. Pemetakan lahan dimaksudkan agar dapat diatur mana untuk lahan yang akan diolah,  ditanami, dan dipanen. Pada setiap petakan dibuat selokan (saluran air), agar drainase baik dan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Lahan selanjutnya diberi pupuk dasar agar tanah tidak kekurangan unsur haranya.
Luas arel petakan dibuat sesuai dengan kebutuhan, Bila kebutuhan pasar sebanyak 1.000 tangkai setiap dua minggu, maka dibutuhkan lahan seluas 600 m2. Lahan dibuat menjadi 7 petak dengan luas setiap petak 72 m2.  
4.         Pengapuran 
Pengapuran dilakukan pada tanah yang memiliki derajat kemasaman tanah (pH) kurang dari 5,5. 
5.         Pemupukan 
Pemberian pupuk dasar dilakukan pada saat tanam. Pupuk yang diberikan adalah yang mengandung unsur N, K, Ca dan P, yang diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.

C.       Teknik Penanaman 
1.         Penentuan Pola Tanam 
Tanaman gladiol dapat ditanam dengan sistem guludan atau tanpa guludan. Jika pengairan menggunakan cara leb, maka penanaman sebaiknya dengan guludan agar air irigasi tidak merusak struktur tanah. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam cara penanaman adalah tempat dan waktu penanaman serta jarak dan kedalaman tanaman. Tempat penanaman gladiol harus terkena cahaya matahari langsung. Atap plastik yang tembus cahaya dan bersih digunakan untuk menghindari kerusakan akibat hujan. Jadwal penanaman disesuaikan dengan kebutuhan berkisar antara 60-80 hari, karena umur tanaman tergantung pada kultivarnya. 
2.         Pembuatan Lubang Tanam 
Lubang tanam dibuat dengan mencangkul lahan sedalam 10-15 cm, untuk subang berdiameter ³ 2,5 cm.  
3.         Cara Penanaman 
Subang ditanam setelah masa dormansi sekitar 3,5 bulan. Cara penanaman dengan guludan, yang disesuaikan dengan kedalaman tanam subang gladiol. Bila kedalaman 10-15 cm, maka tinggi guludan  dibuat ³ 15 cm dengan anggapan bahwa lapisan tanah atas lambat laun akan menurun. Bila dilakukan tanpa guludan maka sering kali tanaman rebah atau tangkai bunga bengkok yang menyebabkan turunnya kualitas bunga.
Kerapatan tanaman perlu diperhatikan karena menentukan kekekaran tanaman dan kualitas bunga. Jika jumlah tanaman per meter persegi terlalu banyak, maka tanaman akan menjadi lemah dan panjang. Semakin kecil diameter subang maka kerapatan tanam semakin besar. Untuk anak subang berdiameter kurang dari 1 cm, biasanya ditanam dalam barisan pada guludan. Jarak tanam untuk subang berdiameter ³ 4 cm adalah 20 x 20 cm sedangkan untuk subang yang berdiameter lebih kecil ditanam lebih rapat.
 Dalam menentukan kedalaman tanam yang perlu diperhatikan adalah tekstur tanah dan waktu tanam. Pada tekstur tanah yang berat, (tanah liat dan berlempung) subang harus ditanam lebih dangkal dari pada tanah yang ringan dan berpasir. Pada musim kemarau subang ditanami lebih dalam dibanding musim penghujan. Suhu tanah akan lebih rendah pada tempat yang lebih dalam. Letak bibit yang dangkal, terutama pada tanah berpasir, akan mengakibatkan tanaman mudah rebah.  
4.         Pemberian Ajir 
Pemberian ajir pada tanaman bunga gladiol dilakukan apabila tanaman rebah atau tangkai bunga bengkok yang menyebabkan turunnya kualitas bunga. Hal ini dapat terjadi bila penanaman bunga dilakukan tanpa menggunakan guludan.

D.       Pemeliharaan Tanaman 
1.         Penyiangan 
Penyiangan gulma pada pertanaman anak subang penting karena gulma dapat menutupi pertumbuhan anak subang sehingga pertumbuhan terhambat dan menyulitkan dalam pemanenan. Penyiangan biasa dilakukan sebelum pemberian pupuk N (saat  berumur sekitar 25 hari setelah tanam) dan dilakukan tiga kali dalam satu siklus tanaman. 
2.         Pembubunan 
Pembubunan dilakukan bersamaan waktunya dengan penyiangan, untuk menjaga agar subang baru yang tumbuh tidak terlihat di atas tanah. 
3.         Pemupukan 
Tanaman gladiol memerlukan pemupukan agar tanaman tumbuh cepat dan berproduksi dengan baik. Jumlah pupuk yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada tekstur tanah, keadaan lingkungan, curah hujan, pengairan dan kandungan hara di dalam tanah. Pada tanah berpasir, diperlukan pemupukan lebih sering terutama pada musim penghujan. Pemupukan dilakukan dua kali (umur 20 hari dan 45 hari setelah penanaman). 
Dosis pemupukan gladiol 90-135 kg N (diberikan sebagian dalam bentuk nitrat, sebagian lagi amonium), 90-180 kg P (sebagai P2O5) dan 110-180 kg K (sebagai K2O) per hektar pada tanah berpasir. Pupuk diberikan tidak sekaligus, pertama saat tanam, ( pupuk K dan P), setelah tanam membentuk 2-3 helai daun diberikan pupuk N sepertiga dosis. Pemberian pupuk N kedua dan ketiga masing-masing dilakukan pada saat mulai terbentuknya primordia bunga dan setelah panen bunga. Pemupukan terakhir sangat penting guna pembesaran subang dan pembentukan anak subang. Pupuk yang digunakan biasanya TSP dan Urea, masing-masing sebanyak satu sendok teh untuk setiap tanam.  
4.         Pengairan dan penyiraman 
Pengairan harus diperhatikan karena drainase berpengaruh terhadap tanaman. Penyiraman dilakukan hanya apabila tanah mulai kering (musim kemarau). 
5.         Waktu Penyemprotan Pestisida 
Kerusakan tanaman gladiol dapat disebabkan oleh hama atau penyakit, yang dapat diatasi dengan pestisida yang tepat. Penanggulangan serangan hama digunakan pestisida padat (Aldikarb), dengan dosis 300 gram/100 m2 air. Digunakan pestisida cair (Permetrin dan deltametrin) dosis 5 cc per 100 m2. Pemberantasan penyakit digunakan pestisida Procymidon, dosis 5 gram/100 m2, atau Kaptofol, dosis 400 gram/100 liter air. Pemberian pestisida sebaiknya setelah tanaman berumur 50 hari.


BUDIDAYA TANAMAN GLADIOL (Gladiolus hybridus)



A.            Sejarah Singkat 
Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae. Gladiol berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil, seperti  bentuk daunnya. Berasal dari Afrika Selatan dan menyebar di Asia sejak 2000 tahun. Tahun 1730 mulai memasuki daratan Eropa dan berkembang di Belanda.
Tanaman gladiol yang termasuk subklas Monocotyledoneae, berakar serabut, dan tanaman ini membentuk pula akar kontraktil yang tumbuh pada saat pembentukan subang baru. Kelebihan dari bunga potong gladiol adalah kesegarannya dapat bertahan lama sekitar 5-10 hari dan dapat berbunga sepanjang waktu. 

B.            Sentra Penanaman 
Sentra produksi bunga gladiol di Indonesia untuk daerah Jawa Barat terdapat di Parongpong (Bandung), Salabintana (Sukabumi) dan Cipanas (Cianjur). Di Jawa tengah terdapat di daerah Bandungan (Semarang) sedangkan di Jawa Timur berada di daerah Batu (Malang). 

C.            Jenis Tanaman 
Klasifikasi tanaman gladiol adalah sebagai berikut:
Divisi      : Tracheophyta
Subdivisi : Pteropsida
Klas        : Angiospermae
Subklas   : Monocotyledoneae
Ordo        : Iridales
Famili      : Iridaceae
Genus     : Gladiolus
Spesies   : Gladiolus hybridus 
Hasil penelitian tahun 1988, Indonesia mengenal 20 varietas gladiol dari Belanda kemudian diuji multi lokasi di kebun percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas. Tiga varietas diantaranya memiliki penampilan yang paling indah, (warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama), yaitu: White godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan Priscilla (putih). Ragam jenis bunga gladiol adalah :
a.       Gladiolus gandavensis, berukuran besar, susunan bunga terlihat bertumpang tindih,  panjang 90-150 cm.
b.       Gladiolus primulinus. berukuran kecil, sangat menarik. Bertangkai halus tetapi kuat dan panjangnya mencapai 90 cm.
c.       Gladiolus ramosus. Panjang tangkai bunga 100-300 cm.
d.       Gladiolus nanus. Tangkai bunga melengkung, dan panjang hanya 35 cm. 
Beberapa kultivar bunga gladiol lainnya yang telah di uji di Indonesia adalah: Red Majesty, Priscilla, Oscar, Rose Supreme, Sanclere, Dr. Mansoer, Albino, Salem, Marah Api, Queen Occer, Ceker dan lain sebagainya.  

D.            Manfaat Tanaman 
Gladiol di produksi sebagai bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi. Dan memiliki nilai estetika. Bunga potong juga merupakan sarana peralatan tradisional, agama, upacara kenegaraan dan keperluan ritual lainnya.

E.        Syarat Tumbuh
1.    Iklim 
a.    Gladiol membutuhkan curah hujan rata-rata 2.000-2500 mm/tahun. Di Indonesia gladiol dapat ditanam sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.
b.    Tanaman gladiol membutuhkan sinar matahari penuh untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan kurang optimal akan menyebabkan bunga mengering dan floret tidak terbentuk secara normal. Kekurangan cahaya terjadi pada waktu pembentukan daun ke 5, 6, dan 7, yang menyebabkan kekeringan tampak pada kuncup bunga saja. Kultifat Eurovision, Peter, Friendship, Jessica, dan Mascagni kurang peka terhadap cahaya matahari.
c.    Tanaman gladiol tumbuh baik pada suhu udara 10-25 derajat C. Suhu udara rata-rata kurang dari 10 derajat C akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat, jika berlangsung lama pertumbuhan tanaman dapat terhenti. Suhu udara maksimum pertumbuhan gladiol adalah 27 derajat C, kadang-kadang dapat menyesuaikan diri sampai suhu udara 40 derajat C, bila kelembaban tanah dan tanaman relatif tinggi.

2.    Media Tanam 
a.    Jenis tanah yang cocok untuk tanaman gladiol adalah andosol dan latosol yang subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik.
b.    Tanaman bunga gladiol dapat tumbuh subur diatas tanah yang memiliki pH 5,5-5,9.

3.    Ketinggian Tempat 
Tanaman gladiol dapat tumbuh dengan baik di daerah ketinggian 500-1500 m dpl dan beriklim sejuk.


BUDIDAYA TANAMAN SEDAP MALAM



A.       Mengenal Tanaman Sedap Malam
Tanaman Sedap Malam merupakan kerabat dekat suku bakung-bakungan (Amarylidaceae) antara lain bunga Lili, September, bakung bunga biru

Taksonomi
Kingdom                :  Plantae ( tumbuh-tumbuhan )
Devisi                    :  Spermathophita ( tumbuhan berbiji )
Sub Devisi             :  Augiospermae ( berbiji tertutup )
Kelas                     :  Monochotiledoneae ( biji berkeping satu )
Ordo                      :  Amarylidales
Famlli                    :  Amarylidaceae
Genus                    :  Palyanthes
Species                 :  Palanthes tuberosa

Morfologi
-       Susunan tubuh terdiri dari akar, batang ( diskus), umbi (batang semu), daun, tangkai bunga dan kuntum bunga.
-       Sistem perakaran menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 40 – 60 cm, akar tersebut yang keluar dari batang utama ( discus )
-       Umbi = merupakan batang semu yang berubah bentuk dan fungsinya sebagai cadangan makanan. Tiap rumpun tanaman terdiri dari satu atau beberapa umbi induk dan sekumpulan umbi anak.
-       Umbi induk biasanya  ukuran besar-besardan lapisan umbinya ( bulbus ) tidak begitu jelas, warna umbu putih.
-       Daun panjang dan pipih, warna hijau mengkilap dinagian permukaan atas dan hijau muda pada permukaan bawah. Pada pangkal daun terdapat bintik-bintik kemerahan.
-       Siklus hidup  termasuk tanaman semusim / setahun tetapi dapat tumbuh lebih satu tahun.
-       Pada fase reproduksi akan muncul tangkai bunga dari titik tumbuh yang ukurannya panjang dan beruas-ruas. Tiap tangkai melekat 5 – 12 kuntum bunga yang mekarnya tidak bersamaan. Warna mahkota putih dan ada yang kemerahan. Kesegaran bunga 5 – 10 hari. Cocok untuk bunga potong . Di Indonesia sulit berbiji.
-       Termasuk tanaman yang banyak mengandung air = sukulen (herbaceous)
-       Fase pertumbuhannya :
·      Fase Perkecambahan : 1 – 2 minggu
·      Fase vegetatif : pertumbuhan daun 3 – 5 minggu
·      Fase perkembangan daun optimum : 16 – 20 minggu
·      Fase generatif : 24 26 minggu
Bila tangkai bunga dibiarkan tumbuh alami hingga kuntum bunganya berguguran, maka pada saat bersamaan mulai terbentuk umbi anakan. Umbi ini tumbuh menjadi tanaman pada umum 36 minggu.

Syarat tumbuh
1.       Iklim : cukup lembab dengan temperatur 13 – 17 0 C, curah hujan 1900 – 2500 mm / tahun, penyinaran penuh
2.       Dataran medium : tinggi cocok / ideal 600 – 1500 m dpl, adaptasi cukup sehingga dapat ditanam di dataran rendah.
3.       Tanah :
a.         Andosol : dataran tinggi, solum 100 – 275 cm , warna hitam – kelabu – coklat tua; tekstur debu – lempung berdebu – lempung ; struktur remah; pH = 5 – 7

b.         Latosol :Solum sangat tebal 1,3 – 5 m; warna merah-coklat- kekuningan; tekstur liat; struktur remah; pH 4,5 – 6,5

c.         Regosol  :  solum tidak lebih dari 25 cm, warna kelabu – coklat – coklat kekuningan ; struktur lepas ( bitur tunggal ) ; tekstur pasil – lempung berdebu; pH asam - netral

B.       Cara Budidaya

  1. Cara Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit
Di Indonesia sulit berbiji , perbanyakan secara vegetatif
Kebutuhan bibit : jarak tanam 20 X 20 cm, tiap lubang 1 umbi sehingga 1 hektar kurang lebih 200 ribu butir umbi
Syarat bibit :
-       Diambil dari rumpun yang berumur lebih 2 tahun
-       Tanaman induk sehat, produktif
-       Telah disimpan 1 – 1,5 bulan
Cara
-       Tentukan rumpun induk
-       Bongkar rumpun induk
-       Kumpulkan ditempat teduh
-       Bersihkan akar dari tanah yang menempel
-       Pisahkan umbi dari rumpun induk dan kelompokkan
-       Simpan umbi dalam wadah, ditarang / diletakkan ditempat yang kering selam 1 – 3 bulan
  1. Penyiapan lahan
a.         Buang rumput liar, batu-batuan
b.         Olah tanah hingga gembur sedalam 20 – 40 cm
c.         Biarkan 15 – 30 hari
d.         Buat bedengan L = 100 – 120 cm, T = 20 – 30 cm, P = tergantung keadaan dan parit antar bedengan 30 – 40 cm
e.         Tambahkan pupuk kandang = 20 – 40 on / ha
f.           Pada tanah asam lakukan pengapuran dolomit, ziagro.

  1. Penanaman
a.         Saat tanam sepanjan musim asal air tidak masalah
b.         Biasanya 7 – 8 bulan sebelum hari raya , tahun baru, dll
c.         Caranya :
-        Buat lubang dengan tugal sesuai dengan jarak tanam
-        Tanam satu biji dalam lubang, arah tunas keatas
-        Tutup lubang tanam
-        Diantara barisan dibuat alur pupuk (pupuk urea 6 kwintal) kemudian tutup tanah
-        Siram bedengan.

  1. Pemeliharaan
a.         Pengairan
-          Pada fase awal pertumbuhan 1- 2 kali sehari
-          Atur pengairan sehingga jangan becek atau kering
-          Caranya bisa leb atau pakai gembor
b.         Penyulaman
-          Dilakukan 5 – 15 hari setelah tanam
c.         Penyiangan
-          Tergantung keadaan gulma
-          Biasanya umur 3 bulan dan diulangi
-          Caranya manual / cangkul
-          Penyiangan diikuti penggemburan tanah dan pemupukan
d.         Pemupukan susulan
-          Dilakukan pada umur 6 bulan
-          Urea dan TSP masing-masing 6 kwintal/ha
-          Caranya kocoran atau dibenamkan dalam tanah
e.         Pengendalian hama penyakit
-          Hama ulat tanah ( Agrothis epsilon  Hufn )  ; Belalang = Valanga sp
-          Penyakit : layu cendawan = Fusarium sp,  busuk umbi = Botrytis sp
-          Pengendalian terpadu dengan rotasi tanaman, pengolahan tanah sempurna, perbaikan drainase, sanitasi kebun.

  1. Panen dan Pasca panen
a.         Panen
-          Saat panen
·           Tanaman telah berumur 7 – 8 bulan
·           Pada setiap tangkai telah mekar 2-3 kuntum
-          Kegunaan : bunga potong atau tabur
-          Cara panen :
·           Potong pangkal tangkai bunga
·           Pada tangkai yang bunganya telah mekar 2 – 3
·           Dipetik bunga yang mekar saja
·           Tempatkan pada wadah yang bersih dan diberi air untuk 6 potong
Panen dapat dilakukan 3 – 7 hari sekali ( sesuai kondisi ) , panen perdana kurang lebih 160 ribu tangkai ( kurang lebih 60% )

b.        Pasca Panen
1.     Pengumpulan
-       Kumpulkan hasil panen ditempat penampungan sementara dekat kebun dab teduh
-       Angkut ditempat penampungan selanjutnya
2.     Pembersihan dan pernyortiran
-       Bersihkan tangka bunga dari daun yang menempel membuang 3 – 4 helai daun terbawah
-       Sortir tangkai bunga yang rusak
-       Keadaan tidak normal
3.    Pemilahan : klasifikasikan bunga berdasarkan ukuran yang seragam
4.    Pengikatan : ikat kumpulkan tangkai bunga yang seragam dengan tali raffia, tiap ikat 10 – 100 tangkai ( tergantung permintaan pasar
5.    Pembungkusan : pembungkusan bunga dengan kertas atau plastik untuk melindungi kemulusan bungan
6.     Pengemasan / penyimpanan
-       Kemas ikatan bunga dalam keranjang dan karton yang berlubang ( ventilasi )
-       Angkut kemasan bunga potong ke pasar
-       Simpan bunga yang akan dijual dalam tempat atau dalam naungan yang bersuhu dingin ( coldstrorage / ruang AC ).

Untuk mempertahankan kesegaran menurut penelitian Lab. Fakultas Pertanian UNPAD Bandung. Masukan larutan gula ( sukrosa ) 6% pada media atau vas. Buat larutan dari 6 gram gula pasir ditambah 100 cc air, potong tangkai bunga bagian bawah miring dan masukan dalam larutan gula. Kesegaran dapat bertahan 13 – 14 hari.